Kota Bandung: Sejarah, Julukan, dan Kabar Terkini

  • Whatsapp

kota bandung gedung sate

Kota Bandung adalah kota metropolitan terbesar sekaligus ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota ini dikenal dunia setelah menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun 1955.

Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dalam pidatonya mengatakan Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika.

Mengutip laman Wikipedia, tahun 1990 Kota Bandung terpilih sebagai salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time.

Baca Juga

Kota Bandung dijuluki Kota Kembang karena pada zaman dulu kota ini dinilai sangat cantik dengan banyaknya pohon-pohon dan bunga-bunga yang tumbuh.

Selain itu, Bandung juga disebut Parijs van Java (Kota Paris dari Jawa) karena keindahannya.

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa.

Secara geografis, kota ini terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat.

Kota Bandung dialiri dua sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum, beserta anak-anak sungainya yang pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bertemu di Sungai Citarum.

Dengan kondisi yang demikian, Bandung selatan sangat rentan terhadap masalah banjir, terutama pada musim hujan.

Semetara iklim kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan yang lembab dan sejuk, dengan suhu rata-rata 23.5 °C, curah hujan rata-rata 200.4 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 21.3 hari per bulan.

Sejarah Kota Bandung

 

Kata “Bandung” berasal dari kata “bendung” atau “bendungan” karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk telaga.

Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan, nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut “perahu bandung”.

Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung”.

  • “Nga-Bandung-an” artinya menyaksikan, memperhatikan, atau menyimak.
  • “Banda” adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari banda adalah harta.
  • “Indung” berarti Ibu atau Bumi, disebut juga sebagai Ibu Pertiwi tempat Banda berada.

Jadi, kata “Bandung” mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup dan benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Mahakuasa.

Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau.

Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro.

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman.

 

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Di kemudian hari, peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bandung.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan –dipimpin oleh Muhammad Toha–  sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “Bandung Lautan Api” dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung, Monumen Bandung Lautan Api, dan nama stadion sepakbola di Gedebage, Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).

Pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama Concordia, Jl. Asia Afrika, sekarang, berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.

Kota Bandung Saat ini

Kota Bandung saat ini mendapat sorotan karena berpredikat kota termacet di Indonesia versi Asian Development Bank (ADB) terbaru, Oktober 2019.

Menurut hasil ADB, Kota Bandung menjadi kota termacet se-Indonesia atau peringkat ke-14 paling macet se-Asia. Dalam survei yang dirilis pada awal Oktober 2019, Jakarta yang berada di peringkat ke-17 dan Surabaya di posisi 20.

Kondisi kemacetan di Kota Bandung berimbas ke berbagai sektor, salah satunya pariwisata. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI Jawa Barat, Herman Muchtar mengatakan kemacetan di Kota Bandung merugikan industri wisata.

Herman menjelaskan, lalu lintas yang macet menghambat mobilitas. Sementara mobilitas adalah aktivitas yang pasti dijalani oleh wisatawan yang datang ke Kota Bandung.

Dia menceritakan saat sejumlah wisatawan dari Jakarta datang ke Kota Bandung untuk menyegarkan diri, justru mendapati kemacetan di sana-sini. Wisatawan yang semula berniat menetap selama empat hari tiga malam di Kota Bandung, langsung memutuskan kembali pada hari pertama.

“Wisatawan itu sudah booking hotel untuk tiga malam. Mereka jalan-jalan lalu sampai lagi di hotel jam 23.00 karena macet,” kata Herman Muchtar dikutip Tempo.

Wisatawan tadi akhirnya tidak jadi menginap dan langsung pulang. Musababnya, mereka memperkirakan besok akan tetap terkena macet saat menjelajah Kota Bandung. “Wisatawan jadi tidak berlama-lama di Kota Bandung,” tegasnya.

Menurut Herman, Kota Bandung adalah destinasi utama wisatawan dari Jakarta. Dengan adanya survei dari Asian Development Bank tadi, dia berharap jangan sampai para pelancong memilih plesiran ke daerah lain. “Kita harus berhati-hati bila wisatawan enggan datang ke Bandung,” katanya.*

 

Related News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *